sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Melemah, KLBF Siapkan Strategi Jaga Margin hingga Genjot Ekspor

Market news editor Anggie Ariesta
11/09/2026 11:37 WIB
Pelemahan nilai tukar rupiah masih membayangi kinerja keuangan Kalbe Farma.
Rupiah Melemah, KLBF Siapkan Strategi Jaga Margin hingga Genjot Ekspor (Foto: dok KLBF)
Rupiah Melemah, KLBF Siapkan Strategi Jaga Margin hingga Genjot Ekspor (Foto: dok KLBF)

IDXChannel - Pelemahan nilai tukar rupiah masih membayangi kinerja keuangan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan menekan margin laba kotor (gross profit margin) serta laba bersih perseroan. 

Untuk meredam dampak tersebut, KLBF menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari penyesuaian harga produk secara selektif, optimalisasi portofolio, hingga meningkatkan ekspor sebagai langkah natural hedging terhadap risiko nilai tukar.

Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, tingginya ketergantungan perseroan terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi sensitif terhadap pergerakan nilai tukar sehingga biaya persediaan turut menjadi faktor yang memengaruhi margin perseroan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat perbaikan margin belum akan terjadi secara signifikan hingga akhir 2026.

"Ya, pelemahan rupiah ini tentunya berdampak cukup besar terhadap laba kotor atau gross profit kami karena biaya produksi sangat dipengaruhi dengan bahan baku impor sehingga pelemahan rupiah ini merupakan suatu tantangan untuk Kalbe," kata Kartika dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).

Untuk menjaga ketahanan kinerja dalam jangka panjang, KLBF menempuh sejumlah strategi operasional. Perseroan antara lain melakukan penyesuaian harga secara selektif pada produk konsumen, menggeser portofolio ke produk dengan margin lebih tinggi, serta meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada segmen alat kesehatan.

"Kita juga sudah bicarakan mengenai strategi untuk berinvestasi di TKDN. Ini kita lakukan mungkin untuk divisi alat kesehatan dalam bentuk melakukan perakitan secara lokal. Untuk sektor obat resep sendiri memang masih terkendala dengan keterbatasan bahan baku obat yang tersedia secara lokal," ujar Kartika.

Genjot Ekspor sebagai Natural Hedging

Di tengah tekanan nilai tukar, KLBF juga melihat ekspor sebagai salah satu strategi untuk mengimbangi dampak fluktuasi kurs. Saat ini, kontribusi ekspor terhadap pendapatan perseroan masih di bawah 10 persen atau sekitar 7 persen.

Meski porsinya relatif kecil, bisnis ekspor KLBF mencatat pertumbuhan dua digit dalam dua tahun terakhir. Perseroan pun menargetkan pertumbuhan bisnis ekspor dapat melampaui pertumbuhan pasar domestik dalam jangka panjang.

"Bisnis ekspor ini menjadi suatu target bagi kami untuk bisa meningkatkan kontribusi ekspor kami yang saat ini masih di kisaran di bawah 10 persen. Secara jangka panjang kita menginginkan adanya pertumbuhan yang lebih tinggi dari bisnis ekspor kami di atas pertumbuhan untuk pasar lokal," tutur Kartika.

Lebih lanjut, pasar Asia Tenggara menjadi salah satu fokus utama ekspansi internasional KLBF. Perseroan akan terus mendorong penetrasi pasar regional dengan membawa produk yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara tujuan ekspor.

Menurut Kartika, peningkatan kontribusi ekspor diharapkan dapat berfungsi sebagai natural hedging sehingga membantu perseroan mengelola dampak volatilitas nilai tukar terhadap kinerja keuangan.

"Terutama kita melakukan ekspor ke pasar regional di kawasan Asia Tenggara dengan beberapa negara tetangga yang merupakan tujuan ekspor utama kami. Ke depannya kita akan terus mendorong bagaimana kita bisa meningkatkan kontribusi ekspor kita dengan membawa produk-produk yang tepat untuk negara-negara tetangga dengan tentunya harapan ini menjadi suatu natural hedging yang akan membantu kita mengelola dampak dari volatilitas nilai tukar," ujar Kartika.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement