“Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Ibrahim.
Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa fokus investor pada pekan depan akan tertuju pada rilis data inflasi dan kinerja perdagangan Indonesia terbaru.
Konflik geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak mentah global juga tetap menjadi radar utama pasar, di samping rilis data penting AS seperti indeks ISM dan Non-Farm Payrolls (NFP).
“Investor juga akan mencermati dimulainya penerapan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE),” kata Lukman.
Untuk rentang pergerakan sepekan ke depan, Lukman memproyeksikan rupiah akan berfluktuasi secara melebar di kisaran Rp17.700 hingga Rp18.200 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim memprediksi mata uang domestik akan bergerak pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.
(Febrina Ratna Iskana)