sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Melemah Nyaris 1 Persen dalam Sepekan, Tertekan Fiskal dan Suku Bunga AS

Market news editor Anggie Ariesta
30/05/2026 13:30 WIB
Rapor merah rupiah sepanjang pekan ini sangat dipengaruhi oleh persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dan suku bunga AS.
Rupiah Melemah Nyaris 1 Persen dalam Sepekan, Tertekan Fiskal dan Suku Bunga AS. (Foto: iNews Media Group)
Rupiah Melemah Nyaris 1 Persen dalam Sepekan, Tertekan Fiskal dan Suku Bunga AS. (Foto: iNews Media Group)

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia ikut memicu pembengkakan biaya impor energi nasional. Fenomena ini otomatis mendongkrak volume permintaan valas di pasar domestik, yang berujung pada penyusutan surplus neraca perdagangan karena pasokan dolar AS yang masuk dari sektor ekspor cenderung melambat.

“Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5/2026).

Faktor eksternal dari rilis data makroekonomi AS turut memberikan andil besar. Pertumbuhan ekonomi AS dilaporkan melambat ke angka 1,6 persen dari estimasi sebelumnya sebesar 2 persen.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS merilis Klaim Pengangguran Awal yang membengkak menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui ekspektasi pasar di angka 211.000.

Kendati pertumbuhan melambat, tingkat inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE utama) AS justru bertahan tinggi di level 3,8 persen pada Maret 2026. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement