Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.780 – Rp16.810 per dolar AS.
Guna meredam volatilitas, BI terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa dan bauran kebijakan makroprudensial. Upaya ini mencakup lima sinergi strategis untuk mempercepat hilirisasi, ekonomi kerakyatan, hingga akselerasi digitalisasi.
Ibrahim menilai langkah BI sangat krusial dalam menghadapi tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pergerakan dolar yang perkasa.
“Guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutur Ibrahim mengenai bauran kebijakan moneter dan sistem pembayaran yang diimplementasikan BI.
Pemerintah dan BI diharapkan terus bersinergi untuk mengembalikan kepercayaan pasar global, terutama melalui perbaikan tata kelola pasar modal yang baru saja mengalami perombakan besar di jajaran pimpinan. (Wahyu Dwi Anggoro)