Menurutnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini lebih merupakan dampak dari shock global yang dialami banyak negara.
“Jadi tekanan yang terjadi saat ini lebih mencerminkan shock global yang dialami hampir semua emerging markets, bukan semata persoalan fundamental domestik Indonesia,” kata dia.
David mengungkapkan, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang lain, seperti won Korea Selatan dan peso Filipina yang masing-masing tertekan hingga 3,62 persen pada periode yang sama.
Tekanan terhadap mata uang negara-negara tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap lonjakan harga minyak akibat eskalasi geopolitik. Korea Selatan misalnya, selama ini dikenal memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, terutama minyak.