Sebaliknya, kredit BMRI tumbuh 19,5 persen, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan CASA sebesar 6,6 persen.
Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, deposito berjangka melonjak 61,1 persen, mendorong LDR naik menjadi 94,8 persen dan meningkatkan tekanan biaya dana.
Menurut UOB Kay Hian, kondisi likuiditas semakin penting karena pertumbuhan kredit masih terkonsentrasi pada segmen korporasi dan investasi, sementara pertumbuhan dana organik belum sepenuhnya mengimbangi ekspansi kredit.
Likuiditas dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dapat meredakan tekanan dalam jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan struktural pendanaan, terutama di bank-bank BUMN.
Pada paruh kedua 2026, kemampuan bank menaikkan imbal hasil aset lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya pendanaan akan menjadi faktor penting bagi kinerja laba.