“Apakah kita benar-benar akan melihat gencatan senjata yang berkepanjangan dan pembukaan kembali selat? Saya belum yakin. Prosesnya tampaknya masih butuh waktu untuk benar-benar tuntas. Namun untuk saat ini, itulah yang sedang terjadi. Semuanya dipicu oleh kabar-kabar positif dari kawasan Teluk,” ujar Tom.
Penurunan harga minyak ini diikuti reli bursa saham global, dengan indeks utama S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan baru.
Koreksi harga energi juga menurunkan tekanan inflasi dan mendorong penguatan obligasi pemerintah AS, tercermin dari turunnya imbal hasil US 10-year Treasury yield.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS akibat meredanya premi risiko geopolitik turut memberi ruang bagi aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.