IDXChannel – Saham emiten minyak dan gas (migas) menghijau pada Senin (20/4/2026) seiring lonjakan harga minyak dunia yang dipicu memanasnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.34 WIB, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) meningkat 5,90 persen ke Rp1.885 per unit, disusul PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang terkerek 2,26 persen ke Rp6.800 per unit.
Di bawah ENRG dan RATU, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mendaki 1,73 persen, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) naik 1,52 persen, dan PT Elnusa Tbk (ELSA) naik 1,38 persen.
Tidak ketinggalan, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) terapresiasi 0,68 persen dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tumbuh 0,88 persen.
Harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan Asia, Senin (20/4), dipicu kembali memanasnya ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan energi global.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Amerika Serikat (AS) menembaki, menaiki, dan menyita kapal berbendera Iran yang tengah menuju pelabuhan Bandar Abbas pada Minggu (19/4).
Insiden ini memperburuk situasi di kawasan dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan suplai minyak.
Analis ANZ Research menilai kondisi saat ini “kompleks dan sangat volatil.”
Mereka menambahkan, pemulihan pasar energi ke kondisi sebelum konflik tidak akan mudah, bahkan jika jalur pelayaran kembali dibuka sepenuhnya.
Kenaikan harga pun tak terelakkan.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman terdekat melonjak 8,0 persen ke USD90,53 per barel. Sementara itu, Brent crude naik 6,7 persen ke USD96,45 per barel.
Senada, analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar menyebut, dikutip Dow Jones Newswires, eskalasi cepat di Selat Hormuz selama akhir pekan sebagai “bayangan yang mengkhawatirkan” bagi peluang perundingan damai AS-Iran pekan ini.
Dengan gencatan senjata dua pekan yang akan berakhir pada Selasa, risiko pecahnya kembali konflik dinilai tetap tinggi.
Dhar juga menyoroti bahwa blokade laut AS saat ini mengancam sekitar 3,8 juta barel per hari minyak dan produk olahan yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz pada Maret.
Ia memperingatkan, Iran kemungkinan tidak mengizinkan lalu lintas energi jika ekspornya sendiri terus dibatasi oleh AS, sehingga berpotensi memperdalam guncangan pasokan global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.