Senior market analyst Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, dalam catatannya menyebut, pasar minyak kini kembali fokus pada risiko geopolitik setelah harga menembus kembali level psikologis USD100 per barel.
Lonjakan ini terjadi setelah perundingan gencatan senjata gagal mencapai kesepakatan yang berkelanjutan, yang kemudian diikuti langkah Amerika Serikat (AS) memperketat pembatasan maritim terhadap kapal-kapal yang bergerak menuju dan dari pelabuhan Iran.
“Reaksi pasar menegaskan satu kenyataan sederhana namun kuat: risiko Selat Hormuz bukanlah sesuatu yang teoretis, melainkan struktural dan nyata,” ujar Sachdeva, dikutip Dow Jones Newswires, Senin (13/4).
Di pasar berjangka (futures), kontrak minyak WTI bulan depan tercatat melonjak 8,7 persen ke posisi USD104,95 per barel, sementara Brent menguat 7,3 persen ke USD102,16 per barel. Lonjakan ini menandai kembalinya premi risiko geopolitik ke pasar energi global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.