sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Dibuka Melemah

Market news editor Desi Angriani
30/10/2026 21:33 WIB
Indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan terkoreksi 2,3 persen ke level 25.587.
Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Dibuka Melemah (Foto: dok AP)
Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Dibuka Melemah (Foto: dok AP)

IDXChannel - Wall Street dibuka turun tajam pada Jumat (30/10/2026) waktu setempat seiring tekanan terhadap saham teknologi setelah kinerja Amazon dan Intel mengecewakan investor. 

Melansir Investing, indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan terkoreksi 2,3 persen ke level 25.587, indeks S&P 500 turun 1,2 persen ke posisi 7.630,05. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 0,4 persen ke level 52.150,77.

Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi saham teknologi yang telah berlangsung pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Di mana Nasdaq anjlok 1,4 persen, terutama akibat tekanan pada saham Alphabet, induk Google.

Saham Alphabet mencatatkan penurunan harian terburuk sepanjang sejarah perusahaan. Harganya merosot lebih dari 12 persen sehingga menghapus sekitar USD500 miliar kapitalisasi pasar perusahaan.

Investor mencemaskan besarnya belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dikeluarkan Alphabet, sementara pertumbuhan bisnis utama periklanan pencarian Google melambat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan perusahaan teknologi besar menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan investasi AI mereka.

Tekanan juga membayangi saham Microsoft. Perusahaan teknologi tersebut menyelesaikan penerbitan obligasi senilai USD25 miliar untuk mendukung ambisi pengembangan AI. Langkah ini menambah perhatian investor terhadap ketergantungan perusahaan teknologi besar pada pendanaan melalui penerbitan utang dan saham untuk membangun infrastruktur AI.

Sebelumnya perusahaan-perusahaan teknologi tersebut banyak mengandalkan arus kas internal untuk membiayai ekspansi. Meningkatnya kebutuhan pendanaan eksternal memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan investasi infrastruktur AI di tengah ketidakpastian tingkat pengembalian.

Analis Vital Knowledge menilai sentimen terhadap saham teknologi kembali memburuk setelah sempat menunjukkan perbaikan pada awal pekan ini.

"Investor kembali mempertanyakan apakah sektor tersebut memasuki siklus umpan balik negatif, ketika sentimen pesimistis menghambat kemampuan perusahaan menghimpun pendanaan melalui utang dan saham, yang selanjutnya dapat menekan belanja pusat data," tulis analis Vital Knowledge dalam catatannya.

Tekanan terhadap saham teknologi semakin besar setelah Amazon dan Intel merilis kinerja keuangan terbaru. Saham Amazon sempat melemah dalam perdagangan awal Jumat, meskipun berhasil memangkas sebagian kerugian yang terjadi sebelum pembukaan pasar. 

Investor menyoroti perlambatan pertumbuhan bisnis e-commerce dan periklanan, serta peningkatan belanja modal perusahaan. Kondisi ini membayangi kinerja positif bisnis komputasi awan Amazon Web Services (AWS). AWS membukukan pendapatan USD46 miliar pada kuartal III-2026, tumbuh 39,3 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat dalam hampir lima tahun.

Di sisi lain, Amazon tetap mempertahankan rencana belanja modal sekitar USD220 miliar sepanjang 2026. Besarnya investasi tersebut turut menekan arus kas bebas perusahaan yang mencatatkan arus keluar sebesar USD42,4 miliar dalam 12 bulan terakhir hingga September 2026.

Sementara itu, saham Intel mengalami tekanan jauh lebih dalam dengan anjlok sekitar 30 persen. Pelemahan tersebut dipicu proyeksi pendapatan kuartal IV-2026 yang lebih rendah dari perkiraan pasar, di tengah lemahnya permintaan prosesor komputer pribadi atau personal computer (PC) dan kendala rantai pasok chip pusat data.

Intel memperkirakan pendapatan kuartal IV-2026 berada di kisaran USD15 miliar hingga USD16 miliar, di bawah ekspektasi analis sebesar USD17,07 miliar. Perseroan juga memperingatkan bahwa arus kasnya belum akan mencatatkan posisi positif tahun ini.

Pasar PC yang masih menghadapi kekurangan komponen menjadi salah satu tantangan bagi Intel. Kelangkaan chip memori global, yang sebagian dipicu meningkatnya kebutuhan infrastruktur pusat data AI, turut menghambat pasokan komponen dan menekan pengiriman PC.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement