“Kami memperkirakan pemulihan akan berlangsung tidak merata, dengan ditopang oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan menjaga harga jual, laba yang defensif, tingkat utang rendah, dan arus kas yang kuat,” tulis UOB.
Tekanan terhadap pasar saham domestik semakin terasa setelah IHSG turun 18,1 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.
Koreksi tersebut terjadi setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Sentimen itu sempat menyeret IHSG ke bawah level 5.000 selama Oktober dan awal November.
Sejumlah sektor mengalami tekanan paling dalam, terutama infrastruktur yang terkoreksi 27,4 persen, barang baku 25,3 persen, industri 24,3 persen, dan energi 23,1 persen.