Hal ini mengindikasikan momentum pertumbuhan laba yang mendasari kinerja perusahaan masih relatif terbatas.
Tekanan juga berpotensi datang dari kenaikan imbal hasil obligasi global yang dapat menekan rupiah sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan Bank Indonesia (BI).
Kondisi tersebut berisiko meningkatkan biaya pinjaman perusahaan.
Selain itu, harga minyak yang masih tinggi serta potensi inflasi pangan akibat fenomena El Nino dapat menekan daya beli masyarakat dan mempertahankan tingginya biaya input.
Dengan kondisi tersebut, pemulihan kinerja emiten diperkirakan tidak berlangsung merata.
Perusahaan dengan kemampuan menjaga harga jual, laba yang defensif, tingkat utang rendah, serta arus kas kuat dinilai memiliki ketahanan lebih baik.