IDXChannel – Serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memicu eskalasi besar di Timur Tengah dan mengguncang sentimen pasar global.
Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia dan BRI Danareksa Sekuritas kompak menilai ketegangan ini menjadi katalis positif bagi emas dan saham-saham energi, meski meningkatkan risiko bagi pasar saham secara umum.
Mengutip Reuters, Sabtu (28/2/2026), serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan menyeret kawasan ke dalam konflik baru.
Negara-negara produsen minyak Teluk Arab dilaporkan siaga, sementara Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel.
Head of Reseach NH Korindo Ezaridho Ibnutama dan tim mencatat, kehadiran militer AS di sekitar Iran telah diperkuat sejak Januari 2026. Presiden AS Donald Trump bahkan memberi sinyal kemungkinan perubahan rezim di Teheran.
Israel menetapkan status darurat dan sejumlah negara menutup wilayah udara, memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.
Menurut NH Korindo, konflik yang terjadi membenarkan peningkatan premi risiko untuk emas serta saham-saham perusahaan minyak.
Selain itu, Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dunia dinilai menjadi titik krusial yang dapat memicu lonjakan biaya logistik.
NH Korindo memperkirakan tarif angkut Very Large Crude Carrier (VLCC) akan melanjutkan tren kenaikan tajam seiring meningkatnya risiko pengiriman. Kondisi ini berpotensi menjadi katalis bagi emiten tanker minyak seperti BULL, SOCI, HUMI, dan GTSI.
Senada, BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan Weekly Stocks menilai eskalasi ini mendorong sentimen risk-off global.
Harga minyak WTI naik ke kisaran USD67 per barel per Jumat (27/2), mendekati level tertinggi tujuh bulan. Secara bulanan, minyak menguat sekitar 2,5 persen pada Februari.
Pelaku pasar menyebut, minyak Brent melonjak sekitar 10 persen ke level USD80 per barel dalam perdagangan over the counter pada Minggu (1/3).
Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga berpotensi menembus USD100 per barel jika gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan.
Sementara itu, harga emas melonjak hampir 1 persen ke atas USD5.220 per troy ons pada Jumat lalu, didorong permintaan aset safe haven di tengah risiko geopolitik dan tekanan inflasi.
Arus dana ke obligasi tenor panjang turut menjaga daya tarik emas, meski ekspektasi penurunan suku bunga AS mundur.
Dari sisi saham, BRI Danareksa merekomendasikan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) seiring penguatan harga emas.
Secara teknikal, ARCI dinilai mampu pullback dari area 1.765 dengan target resistance 1.955-2.070.
Untuk sektor energi, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) direkomendasikan beli di area 1.650-1.700 dengan target 1.755 hingga 1.835 dan stop loss di bawah 1.550.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dinilai berpotensi melanjutkan tren bullish menuju 1.970-2.250 apabila mampu menembus resistance 1.670-1.760, ditopang kinerja laba bersih yang tumbuh 21 persen pada 2025.
Namun, kata BRI Danareksa, pasar saham, khususnya emerging markets, berisiko mengalami tekanan jika ketidakpastian terus berlanjut. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.