Lebih lanjut, mitra EPC+F tersebut juga menyatakan minat dan kapasitas untuk berinvestasi lebih dari USD100 juta guna mendukung operasi pertambangan proyek-proyek PG, NINE, dan PGGR.
Kapasitas produksi tahunan dari proyek-proyek tersebut diproyeksikan dapat melampaui 20 juta ton. Realisasi investasi akan bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) dari otoritas China yang berwenang.
Sejalan dengan itu, PGGR bersama pihak terafiliasinya, termasuk NINE juga tengah melakukan negosiasi lanjutan dengan sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) yang sah. Negosiasi tersebut mencakup potensi kerja sama pada komoditas emas, batu bara, timah, hingga bauksit, dengan tujuan memperluas basis sumber daya dan peluang monetisasi aset.
Manajemen menilai, perkembangan ini berpotensi memberikan dampak material bagi pemegang saham NINE terutama jika opsi pembelian aset tambang Mongolia direalisasikan.
Selain itu, keterlibatan perseroan dalam proyek pertambangan di Indonesia ke depan diharapkan dapat membuka jalur monetisasi aset yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.