IDXChannel - Nilai tukar rupiah menunjukkan sedikit napas lega pada perdagangan Jumat (23/1/2026) dan tercatat menguat ke level Rp16.820 per dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan.
Meski mengalami penguatan tipis, posisi rupiah dinilai masih rawan karena berada sangat dekat dengan batas psikologis kritis Rp17.000 per dolar AS.
Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memanas. Kondisi ini memaksa investor asing untuk menarik modalnya dan mencari perlindungan pada aset aman (safe haven) dalam bentuk dolar AS.
“Karena emerging market dianggap lebih berisiko, duitnya balik ke USD. Sehingga rupiah kita melemah,” kata Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan Pasar Modal di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Menghadapi volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan, Hans Kwee menyarankan para investor untuk lebih jeli dalam menyusun strategi. Ia merekomendasikan peralihan sementara ke instrumen yang lebih defensif seperti pasar uang atau obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.