Namun, bagi investor saham, fluktuasi ini justru dipandang sebagai kesempatan untuk akumulasi. Hans menekankan pentingnya berfokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan pertumbuhan tinggi, namun tidak lagi mengejar harga yang sangat murah (undervalued) mengingat kondisi pasar yang sedang bullish.
“Kita harus membeli perusahaan yang potensi growth-nya tinggi, tapi pada fair price, harga yang fair. Jadi dalam market yang bull seperti ini, kalau kita mengharapkan membeli saham pada under value yang ter-discount tinggi, itu agak sulit terjadi. Jadi kita beli di fair price dengan potensi pertumbuhan tinggi,” ujarnya.
Meskipun rupiah tertekan dan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell), Hans Kwee tetap memegang teguh proyeksi optimistisnya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menyentuh level 10.000 pada akhir tahun ini.
Keyakinan ini didasari pada bukti ketahanan pasar modal domestik sepanjang 2025. Kala itu, IHSG mampu meroket 22,13 persen ke level 8.646 meskipun dihantam aksi net sell asing senilai Rp17,34 triliun.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa struktur pasar saham Indonesia kini semakin mandiri dan tidak lagi sepenuhnya didikte oleh pergerakan modal asing. (Wahyu Dwi Anggoro)