sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Rawan Tertekan

Market news editor Anggie Ariesta
24/01/2026 16:57 WIB
Nilai tukar rupiah menunjukkan sedikit napas lega pada perdagangan Jumat (23/1/2026) dan tercatat menguat ke level Rp16.820 per dolar AS (USD).
Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Rawan Tertekan. (Foto: Inews Media Group)
Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Rawan Tertekan. (Foto: Inews Media Group)

Namun, bagi investor saham, fluktuasi ini justru dipandang sebagai kesempatan untuk akumulasi. Hans menekankan pentingnya berfokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan pertumbuhan tinggi, namun tidak lagi mengejar harga yang sangat murah (undervalued) mengingat kondisi pasar yang sedang bullish.

“Kita harus membeli perusahaan yang potensi growth-nya tinggi, tapi pada fair price, harga yang fair. Jadi dalam market yang bull seperti ini, kalau kita mengharapkan membeli saham pada under value yang ter-discount tinggi, itu agak sulit terjadi. Jadi kita beli di fair price dengan potensi pertumbuhan tinggi,” ujarnya.

Meskipun rupiah tertekan dan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell), Hans Kwee tetap memegang teguh proyeksi optimistisnya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menyentuh level 10.000 pada akhir tahun ini.

Keyakinan ini didasari pada bukti ketahanan pasar modal domestik sepanjang 2025. Kala itu, IHSG mampu meroket 22,13 persen ke level 8.646 meskipun dihantam aksi net sell asing senilai Rp17,34 triliun.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa struktur pasar saham Indonesia kini semakin mandiri dan tidak lagi sepenuhnya didikte oleh pergerakan modal asing. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement