Terbanyak ke China, Ekspor CPO Indonesia Tembus 36,17 Juta Ton di 2019

Market News
Fahmi Abidin
Selasa, 04 Februari 2020 10:15 WIB
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) atat ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sepanjang 2019 mencapai 36,17 juta ton.
Terbanyak ke China, Ekspor CPO Indonesia Tembus 36,17 Juta Ton di 2019. (Foto: Ist)

IDXChannel - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) atat ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sepanjang 2019 mencapai 36,17 juta ton. Sebagian besar ekspor itu dikirim ke China.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan volume ekspor tahun lalu tumbuh 4 persen dibandingkan tahun 2018 sebesar 34,7 juta ton. China menjadi pasar ekspor terbesar produk minyak sawit Indonesia sepanjang 2019, yakni sebesar 6 juta ton (di luar produk oleokimia dan biodiesel).

"China paling besar kenaikan ekspornya. Namun ke UE turun, India juga turun paling banyak. Tetapi karena kenaikan China dan Afrika besar, bisa menutupi minus di tempat lain," kata Joko seperti dikutip iNews di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Pasar ekspor minyak sawit Indonesia selain China, yakni India sebesar 4,8 juta ton dan Uni Eropa 4,6 juta ton. Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China 825 ribu ton, diikuti oleh Uni Eropa 513 ribu ton.

Ekspor minyak sawit ke Afrika juga tercatat naik 11 persen menjadi 2,9 juta ton pada 2019, dari 2,6 juta ton pada 2018. Joko menilai data ini menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun, serta memberikan sinyal positif bagi pasar produk minyak sawit Indonesia.

2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia. Berbagai tantangan tersebut terutama datang dari implementasi kebijakan RED II oleh EU yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku bioidiesel.

Kemudian, perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan, perang dagang Amerika Serikat dan China, serta harga CPO yang terus menurun.

Perang dagang AS dan China menyebabkan ekspor kedelai ke China terkendala sehingga petani AS yang biasanya memasok dalam jumlah besar ke China harus mencari pasar baru yang menyebabkan harga oilseed dan juga minyak nabati tertekan.

Pada 2019 juga ditutup dengan harga yang melonjak diatas 800 dolar AS/ton CIF Rotterdam dan penyamaan tariff impor minyak sawit Indonesia di India. (*)

Baca Juga