Secara teknikal, Alirch pun menilai bahwa area Rp2.350 hingga Rp2.400 per saham dapat dicermati sebagai support dan akumulasi bertahap, dengan target terdekat Rp2.800 dan Rp3.000.
Sementara jika terjadi breakdown support, maka perlu diwaspadai juga adanya peluang pelemahan lanjutan.
"Katalis utama yang perlu diperhatikan, adalah perkembangan isu MSCI, pergerakan harga emas dan nikel, realisasi kinerja kuartal III, serta perkembangan proyek hilirisasi. Investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada harga yang sudah turun, tapi juga menunggu konfirmasi pembalikan tren," ujar Alrich.
Sementara, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa dikeluarkannya saham ANTM dari indeks MSCI Global Standard memang memberikan tekanan jual mekanis jangka pendek, yang dipicu oleh penyesuaian portofolio (rebalancing) dana kelolaan pasif global.
Namun demikian, Nafan memastikan bahwa aksi jual ini bersifat teknikal, dan tidak mengindikasikan penurunan kinerja operasional Perseroan secara keseluruhan.