"Fenomena aliran dana keluar memang sering kali menciptakan mispricing, di mana harga saham terkoreksi melebihi penurunan nilai intrinsiknya. Kondisi ini justru membuka peluang bagi investor berhorizon menengah hingga panjang untuk melakukan akumulasi bertahap (buy on weakness) pada harga yang lebih atraktif," ujar Nafan, dalam kesempatan terpisah.
Menurut Nafan, skema pendanaan hilirisasi yang banyak memanfaatkan kemitraan strategis, juga membuat kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) tidak membebani arus kas internal Perseroan secara berlebihan, sehingga posisi keuangan relatif tetap aman dan fleksibel.
Justru, kondisi arus kas dan tingkat profitabilitas yang kuat akan membuat ekspektasi pembagian dividen dalam jumlah besar menjadi sangat realistis untuk diwujudkan.
Secara historis, ANTM memang secara konsisten mempertahankan dividend payout ratio yang tinggi, sehingga potensi dividend yield yang menarik diproyeksikan mampu menjadi katalis pemulihan harga saham,” ungkap dia.
"Daya tarik dividen ini umumnya akan mengundang masuknya kembali investor institusi domestik yang berfokus pada imbal hasil, sekaligus membantu menahan tekanan jual lebih lanjut dari investor asing," ujar Nafan.