Di sisi lain, beban operasional meningkat 17,1 persen menjadi Rp2,36 triliun dari Rp2,02 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan biaya administrasi, termasuk pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atas piutang entitas anak PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI), serta meningkatnya biaya perbaikan dan pemeliharaan sistem perdagangan.
Neraca perseroan juga menunjukkan penguatan. Total aset meningkat 32,2 persen menjadi Rp14,78 triliun, sementara ekuitas bertambah 14 persen menjadi Rp9,45 triliun.
Liabilitas tercatat naik menjadi Rp5,33 triliun, sedangkan kas dan setara kas berada di level Rp1,25 triliun. Di saat yang sama, belanja modal (capital expenditure) meningkat 32,57 persen menjadi Rp370,61 miliar sepanjang tahun 2025.
Sepanjang 2025, nilai transaksi harian rata-rata saham mencapai Rp18,1 triliun, sementara transaksi produk non saham membukukan nilai Rp7,6 triliun. Pasar obligasi melalui mekanisme SPPA mencatatkan total volume transaksi sebesar Rp1.375 triliun, sedangkan nilai perdagangan di Bursa Karbon mencapai Rp36,37 miliar.
"Capaian ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang semakin berkembang di berbagai instrumen investasi," kata Jeffrey.