Dalam kesempatan yang sama, Jeffrey juga memaparkan perjalanan pasar modal Indonesia sepanjang 2025 yang diwarnai gejolak global, mulai dari perang dagang, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada Maret dan April 2025.
Namun, berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan regulator dan pemerintah berhasil memulihkan kepercayaan investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempercepat kebijakan stabilisasi pasar, sementara pemerintah menggelontorkan stimulus likuiditas sekitar Rp200 triliun yang turut menopang sentimen positif.
Hasilnya, IHSG berhasil bangkit dan mencetak 24 kali rekor tertinggi (all-time high) sepanjang 2025. Indeks juga menembus level 8.000 pada September 2025 dan mencapai rekor tertinggi di level 8.711 dengan kapitalisasi pasar menyentuh Rp16.004 triliun sebelum menutup tahun di level 8.045.
Selain penguatan indeks, BEI juga mencatat perkembangan berbagai instrumen investasi. Penghimpunan dana melalui rights issue dan pencatatan saham baru mencapai Rp18,1 triliun. Sementara itu, nilai transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun, volume transaksi Surat Partisipasi Penyertaan Aset (SPPA) mencapai Rp1.375 triliun, dan nilai perdagangan Bursa Karbon sebesar Rp36,37 miliar.
(Febrina Ratna Iskana)