Pola tersebut terlihat sepanjang tahun ini. BI mempertahankan suku bunga pada Januari-April, kemudian menaikkan suku bunga sebesar total 100 bps pada Mei-Juni ketika instrumen lini pertama dinilai belum cukup untuk meredam tekanan.
Setelah itu, BI kembali menahan suku bunga pada Juli-September seiring pengurangan penerbitan SRBI.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Rully menilai tekanan tersebut berasal dari dua sisi, yakni melonjaknya impor minyak dan gas akibat kenaikan harga minyak serta pertumbuhan impor nonmigas yang terdorong oleh target pertumbuhan ekonomi yang agresif.
Kondisi tersebut membuat CAD melebar hingga 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara pembiayaannya masih bergantung pada aliran dana jangka pendek yang rentan berbalik arah.
Dorongan pertumbuhan juga memberikan tekanan terhadap likuiditas domestik karena pertumbuhan kredit bergerak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).