Meski inflasi konsumen Amerika Serikat melambat menjadi 3,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada bulan lalu, The Fed menilai risiko kenaikan harga masih tinggi, terutama akibat gejolak harga minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, bank sentral AS menyebut ekonomi masih bertumbuh pada "laju yang solid" dan tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Sejumlah pejabat lain, termasuk Gubernur The Fed Christopher Waller dan Lisa Cook, juga menyampaikan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat sehingga ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, keputusan menahan suku bunga memberikan dampak yang cenderung bercampur (mixed) bagi pasar Indonesia.
Di satu sisi, langkah tersebut meredakan tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah.