Di sisi lain, pelemahan dolar AS akibat meredanya premi risiko geopolitik turut memberi ruang bagi aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan.
Keputusan ini diambil dengan alasan Washington belum mencabut blokade lautnya serta masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.