UEA pertama kali menjadi anggota OPEC melalui emirat Abu Dhabi pada 1967, dan kemudian sebagai negara setelah terbentuk pada 1971.
Kartel minyak yang berbasis di Wina ini telah mengalami penurunan pengaruh pasar dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya produksi minyak mentah oleh AS.
Selain itu, UEA dan Arab Saudi semakin bersaing dalam isu ekonomi dan politik regional, khususnya di kawasan Laut Merah.
Kedua negara sebelumnya tergabung dalam koalisi untuk melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman sejak 2015. Namun, koalisi tersebut retak pada akhir Desember ketika Arab Saudi menyerang target yang mereka klaim sebagai pengiriman senjata untuk kelompok separatis Yaman yang didukung UEA.
Perusahaan riset energi Rystad Energy menyatakan bahwa keluarnya UEA merupakan perubahan signifikan bagi kelompok produsen minyak tersebut.
“Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari, serta ambisi untuk meningkatkan produksi, berarti menghilangkan salah satu alat penting dari tangan kelompok ini,” ujar kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.
Arab Saudi kini harus memikul lebih banyak beban dalam menjaga stabilitas harga, dan pasar kehilangan salah satu penyangga guncangan yang tersisa.
(NIA DEVIYANA)