Sementara itu, rugi bersih Unicharm mencapai Rp1,2 triliun pada 2025, berbalik dari 2024 yang masih meraih laba bersih Rp350 miliar.
Kerasnya kompetisi di sektor popok dan pembalut dengan kemunculan pemain-pemain baru memukul bisnis Unicharm yang menjual MamyPoko dan Charm. Perseroan telah berupaya meluncurkan produk baru dengan merek Fitti yang lebih ekonomis, namun hasilnya belum terlihat.
Meski tertekan, arus kas Unicharm masih positif sebesar Rp435 miliar, meningkat dibandingkan akhir 2024 yang sebesar Rp395 miliar. Posisi kas dan setara kas per 31 Desember 2025 juga masih tebal hingga Rp1,96 triliun.
Selain kas yang masih tinggi, neraca Unicharm juga masih solid. Piutang berkurang menjadi Rp1,88 triliun sedangkan persediaan meningkat menjadi Rp1,22 triliun.
Di samping itu, perseroan juga tidak memiliki utang berbunga, mencerminkan pengelolaan yang prudent. Selain itu, ekuitas juga masih mencapai Rp4,6 triliun meski turun 22 persen imbas kerugian besar dalam laporan laba rugi.
(Rahmat Fiansyah)