Bahkan, ia menilai sentimen negatif investor cenderung terlalu pesimistis jika dibandingkan dengan kondisi fundamental laba perusahaan yang masih cukup solid.
“Reset valuasi menciptakan profil risiko dan imbal hasil yang lebih menarik,” tulis William dalam risetnya.
DBS menilai stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi katalis utama bagi pergerakan pasar saham ke depan. Rupiah masih menjadi faktor penting yang menentukan sentimen investor terhadap aset Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah sebelumnya muncul akibat kekhawatiran atas penyempitan surplus perdagangan, kenaikan harga minyak, serta penerapan skema ekspor baru. Kondisi tersebut turut membebani pasar saham domestik.
Namun, DBS melihat peluang perbaikan seiring dengan potensi penurunan harga minyak, meredanya ketegangan geopolitik, serta dukungan kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia (BI). Penguatan rupiah yang signifikan dinilai dapat mendorong pemulihan valuasi saham.