IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, dibuka anjlok pada perdagangan Kamis (5/11/2026), waktu setempat, dengan indeks Nasdaq berada di ambang fase koreksi.
Dilansir dari Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 351,87 poin atau 0,66 persen menjadi 53.004,25, indeks S&P 500 melemah 127,74 poin atau 1,66 persen ke level 7.560,88, dan indeks Nasdaq Composite merosot 795,08 poin atau 3,09 persen menjadi 24.941,44.
Penurunan tajam pada saham-saham produsen chip dan perusahaan yang terkait dengan pusat data (data center) menjadi beban utama, sehari setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm election) sempat memicu reli pasar secara luas.
Saham Qualcomm merosot 9 persen setelah perusahaan tersebut mencatatkan angka penjualan chip ponsel pintar kuartal IV yang berada di bawah ekspektasi pasar, akibat permintaan yang lesu serta penurunan pendapatan yang terkait dengan Apple.
Indeks semikonduktor secara keseluruhan melanjutkan pelemahan dengan penurunan sebesar 7,1 persen. Saham-saham seperti Nvidia, Advanced Micro Devices, Intel, dan Marvell Technology mencatatkan penurunan signifikan yang menekan pasar.
Saham perusahaan chip, beserta perusahaan yang terlibat dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), kembali melemah pasca kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum; termasuk di beberapa negara bagian penting yang menjadi lokasi pusat data, di mana penolakan publik terhadap ekspansi pesat industri ini terus meningkat.
"Kini muncul kemungkinan bahwa dorongan ekstra selama dua tahun terakhir dari pemerintahan Trump untuk pengembangan AI akan dikurangi, mengingat banyak aspek terkait sektor AI yang selama ini diabaikan oleh pemerintahan saat ini," ujar Analis Senior Swissquote Bank Ipek Ozkardeskaya.
"Kami menduga akan ada pengawasan lebih ketat terhadap ekspansi AI yang agresif ini," kata dia.
Sebagian besar saham teknologi berkapitalisasi besar juga melemah setelah reli yang terjadi pada Rabu. Saham Meta Platforms turun 3,4 persen, sementara Amazon.com, dan Alphabet mencatatkan penurunan tipis.
Tesla, perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk, anjlok 9,5 persen, dan SpaceX turun 6,7 persen, melanjutkan tren pelemahan. Musk telah menghabiskan hampir setengah miliar dolar untuk mendukung kandidat dari Partai Republik, termasuk upaya untuk mempertahankan kendali partai tersebut di Texas, negara bagian asal kedua perusahaan tersebut.
Beberapa analis menyatakan, pemerintahan yang terpecah di Washington dapat mengurangi kemungkinan perubahan legislatif yang drastis, bahkan mungkin menyulitkan tercapainya kesepakatan mengenai belanja fiskal, mengingat kondisi fiskal AS yang kian memburuk. Penurunan tajam harga minyak juga turut memengaruhi sentimen pasar.
Bank-bank sentral di seluruh dunia mengakui inflasi masih tetap tinggi, seiring dengan lonjakan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah.
Perhatian kini tertuju pada data non-farm payrolls (data ketenagakerjaan di luar sektor pertanian) AS untuk Oktober yang akan dirilis pada Jumat. Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga bulan depan, menyusul kenaikan yang telah dilakukan pada September.
Di antara saham-saham lainnya, Snap, perusahaan induk Snapchat—anjlok 12 persen setelah pendapatan kuartal ketiganya meleset dari perkiraan. Sebaliknya, saham AppLovin melonjak 32 persen setelah platform pemasaran tersebut mencatatkan laba kuartal III yang melampaui ekspektasi.
Di bursa NYSE, jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik dengan rasio 1,36 banding 1, sementara di Nasdaq, rasio tersebut mencapai 2,17 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat 69 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir dan 3 saham mencapai level terendah baru, sedangkan indeks Nasdaq Composite mencatat 132 saham mencapai level tertinggi baru dan 247 saham mencapai level terendah baru.
(Dhera Arizona)