IDXChannel - Wall Street berakhir menguat didorong oleh kenaikan saham teknologi yang dipimpin oleh Advanced Micro Devices (NASDAQ:AMD).
Dilansir dari laman Investing Rabu (25/2/2026), ketidakpastian yang meningkat terkait perdagangan global dan kekhawatiran akan gangguan kecerdasan buatan (AI) telah mengaburkan sentimen pada hari Senin. Para pelaku pasar juga menantikan pidato kenegaraan Presiden Donald Trump pada Selasa sore.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,8 persen dan ditutup pada 6.891,04 poin, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi naik 1,1 persen dan ditutup pada 22.863,68 poin.
Sedangkan Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip bertambah 0,8 persen dan ditutup pada 49.174,81 poin.
Dow Jones ditutup 1,7 persen lebih rendah pada hari sebelumnya, sementara Nasdaq turun 1,1 persen dan S&P turun sekitar 1 persen dan tergelincir ke zona merah untuk tahun ini.
Kerugian tersebut menyusul laporan dari Citrini Research mengenai skenario hipotetis yang mengerikan untuk tahun mendatang, di mana AI akan memicu gelombang pengangguran massal di kalangan pekerja kerah putih, mengurangi pengeluaran konsumen, mendorong gagal bayar pinjaman, dan pada akhirnya menyebabkan kontraksi ekonomi.
"Reaksi pasar adalah bagian dari gejolak harian yang dialami investor sepanjang tahun. S&P 500 turun 2,8 persen pada pertengahan Januari diikuti oleh kenaikan 3,1 persen, kemudian penurunan 3,2 persen pada akhir Januari hingga awal Februari dan kemudian kenaikan 3,1 persen, dan akhirnya kita kembali pulih hari ini dari penurunan 3,1 persen lainnya pada pertengahan Februari. Tetapi sejauh ini kita hanya naik 1,7 persen dari titik terendah baru-baru ini," kata Mark Luschini, Kepala Strategi Investasi di Janney Montgomery Scott, kepada Investing.com.
Di sisi lain, pasar terus khawatir tentang masa depan perdagangan global usai tarif perdagangan global baru Trump mulai berlaku 10 persen pada tengah malam setelah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif timbal balik Trump.
Adapun tingkat 10 persen dikomunikasikan melalui layanan pesan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, dan lebih rendah dari tarif 15 persen yang digembar-gemborkan Trump selama akhir pekan. Namun, Gedung Putih sedang berupaya mengeluarkan perintah resmi untuk menaikkan tarif menjadi 15 persen, lapor Bloomberg News.
Mengingat prospek yang belum jelas untuk agenda perdagangan Trump, ketidakpastian disinyalir masih menyelimuti perdagangan ke depan.
Trump yang dihadapkan dengan beberapa negara juga masih memikirkan apakah kesepakatan ini masih berlaku setelah putusan Mahkamah Agung. Namun dia memperingatkan MA dalam sebuah unggahan media sosial untuk tidak bermain-main.
Menambah ketidakpastian umum, FedEx (NYSE:FDX) mengajukan gugatan terhadap pemerintah AS pada hari Senin, meminta "pengembalian dana penuh" untuk tarif darurat yang dibayarkan selama setahun terakhir.
FedEx adalah perusahaan pertama yang meminta pengembalian dana setelah keputusan Mahkamah Agung, dan bergabung dengan sejumlah besar perusahaan yang secara hukum menantang tarif Trump.
Keputusan Mahkamah Agung menyisakan ketidakjelasan Perusahaan, tentang apa yang akan dilakukan dengan pendapatan yang dikumpulkan dari tarif ilegal Trump mencapai dari USD160 miliar.
(Kunthi fahmar sandy)