Namun, di tengah volatilitas terbaru, indeks S&P 500 sendiri hanya sekitar 2,5 persen di bawah rekor tertinggi.
“Sejauh ini, belum ada yang benar-benar menjadi pukulan telak bagi pasar saham, di mana S&P 500 berfluktuasi dalam kisaran sempit 6.775–7.000 sejak awal tahun. Namun, laporan Nvidia besok malam bisa menjadi cerita besar berikutnya,” kata analis ING, Chris Turner.
Produsen chip AI Nvidia, yang akan melaporkan laba setelah penutupan pasar pada Rabu, menyumbang sekitar 8 persem dari keseluruhan indeks S&P 500.
Di sisi lai, sentimen tarif juga masih membayangi pasar setelah Mahkamah Agung memutuskan pada Jumat bahwa tarif darurat Presiden AS Donald Trump melanggar hukum. Hal tersebut memicu Trump mengumumkan tarif menyeluruh sebesar 10 persen yang mulai berlaku pada Selasa.
Trump juga mengatakan tarif tersebut akan menjadi 15 persen, namun belum jelas kapan atau apakah kebijakan itu benar-benar akan diterapkan.
Para importir berpotensi menerima pengembalian dana miliaran dolar, sementara mitra dagang dan investor masih belum mendapatkan kejelasan mengenai status berbagai perjanjian tarif yang sudah ada.
Pada Senin, Trump memperingatkan negara-negara agar tidak mundur dari kesepakatan dagang yang baru saja dinegosiasikan dengan AS setelah putusan Mahkamah Agung terkait tarif. Dia juga menyatakan akan mengenakan bea masuk yang jauh lebih tinggi melalui undang-undang perdagangan lainnya.
(NIA DEVIYANA)