AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Wall Street Dibuka Merosot, S&P 500 Turun 1,41 Persen

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Jum'at, 23 September 2022 21:25 WIB
Indeks utama Wall Street dibuka koreksi hampir 2 persen pada perdagangan akhir pekan, Jumat (23/9).
Wall Street Dibuka Merosot, S&P 500 Turun 1,41 Persen (dok.MNC)
Wall Street Dibuka Merosot, S&P 500 Turun 1,41 Persen (dok.MNC)

IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka koreksi hampir 2 persen pada perdagangan akhir pekan, Jumat (23/9). Pasar tampak masih resah akan terjadi penurunan ekonomi akibat kebijakan pengetatan dari Federal Reserve.

Pada awal perdagangan, Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 1,21% di 29.713,88, S&P 500 (SPX) melemah sebesar 1,41% di 3.705,07, sedangkan Nasdaq Composite (IXIC) tertekan 1,39% di 10.391,13.

Komponen saham yang paling aktif diperdagangkan di bawah SPX antara lain Ford Motor, AMD, dan Apple. Tiga top gainers ditempati oleh Domino's Pizza Inc menguat 2,47%, MarketAxesss naik 0,55%, dan Aon tumbuh 0,47%, sedangkan top losers diduduki oleh APA Corp turun 8,05%, Marathon Oil anjlok 8,17%, dan Schlumberger tertekan 8,00%.

Bank sentral AS / The Fed telah mengerek suku bunga acuan sebesar 75 basis poin di kisaran 3,00% - 3,25% pada Rabu lalu (21/9). Kebijakan ini diperkirakan masih akan menjadi sentimen bagi pasar modal AS, mengingat prospek tren suku bunga yang diproyeksikan The Fed masih akan berlangsung hingga tahun depan.

Analis menilai dasar itulah yang dikhawatirkan dapat memicu tekanan jual di pasar saham, lantaran The Fed masih menemui kesulitan untuk meredam inflasi dalam waktu dekat. Seperti diketahui, the Fed sebelumnya memproyeksikan suku bunga akan berada di level 4,6% pada tahun 2023.

"Ekonomi (AS) sedang mencoba menuju ke tingkat inflasi yang rendah. Hal itu tidak akan dilihat sebagai kabar baik oleh investor yang saat ini sedang berharap bisa melewati masa transisi ini secepat mungkin," kata Analis Cherry Lane Investments, Rick Meckler, di New Vernon, New Jersey, dilansir Reuters, Jumat (23/9/2022).

Meckler mewaspadai tekanan jual di Wall Street dapat terbentuk sebagai kemurungan investor melihat sedikitnya katalis positif, menyusul ancaman resesi yang telah ada di depan mata.

Sebelumnya, tiga indeks utama mengalami tekanan di tiga sesi berturut-turut, mendekati level terendahnya dalam sepekan. Sejumlah lembaga perbankan mengkhawatirkan potensi resesi bakal terjadi pada tahun depan. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD