IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Kenaikan ini terjadi setelah sempat turun tajam pada penutupan perdagangan kemarin.
Investor mencermati sejumlah rilis data ekonomi untuk mengukur arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah.
Laporan Kementerian Perdagangan AS menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 melambat lebih dalam dari perkiraan awal setelah adanya revisi turun pada belanja konsumen dan investasi bisnis. Namun, laporan terpisah menunjukkan belanja konsumen pada Januari 2026 naik sedikit lebih tinggi dari perkiraan.
Data tersebut belum banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan hanya ada satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, lebih rendah dibandingkan dua kali pemangkasan yang diperkirakan sebelum konflik pecah pada 28 Februari.
Ekonom Spartan Capital Securities, Peter Cardillo menilai inflasi masih cukup tinggi sehingga bank sentral kemungkinan mempertahankan kebijakan suku bunga lebih lama.
“Inflasi masih tinggi dan cenderung bertahan. Jika harga energi terus naik, The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga lebih lama,” katanya dikutip dari Reuters.
The Fed juga diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan pekan depan. Lonjakan harga energi bakal mempersulit rencana kebijakan bank sentral, terlebih ketika sejumlah indikator lain menunjukkan tekanan harga masih tinggi dan pasar tenaga kerja mulai melunak.
Sementara itu, survei awal University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS pada Maret turun menjadi 55,5 dari 56,6 pada akhir Februari.
Di sisi lain, harga minyak mentah bertahan di dekat level USD100 per barel karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda meskipun pemerintahan Donald Trump menyatakan konflik tersebut dapat segera diselesaikan.
Upaya meredam lonjakan harga energi melalui pelepasan cadangan minyak darurat oleh International Energy Agency (IEA) serta lisensi sementara selama 30 hari dari AS bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang tertahan di laut sejauh ini belum berhasil menurunkan harga.
Pada pukul 10.10 waktu New York, Dow Jones Industrial Average naik 197,09 poin atau 0,42 persen menjadi 46.874,94. S&P 500 menguat 28,78 poin atau 0,43 persen ke 6.701,40, sedangkan Nasdaq Composite naik 89,51 poin atau 0,40 persen menjadi 22.401,49.
Indeks volatilitas CBOE VIX, yang sering disebut sebagai indikator ketakutan pasar, turun menjadi 25,37. Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 menguat dengan sektor utilitas memimpin kenaikan sebesar 1,4 persen.
Kendati demikian, indeks S&P 500 dan Dow masih berada di jalur penurunan mingguan ketiga berturut-turut.
(Rahmat Fiansyah)