IDXChannel - Wall Street ditutup bervariasi yang mayoritas berakhir lebih rendah pada Rabu (31/9/2026) waktu setempat. Hal itu dipicu aksi jual yang terjadi pada setengah jam terakhir perdagangan.
Aksi jual tersebut menghapus keuntungan yang sempat diraih sebelumnya karena berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Gelombang pelemahan ini juga cukup untuk menyeret indeks acuan S&P 500 ke wilayah negatif untuk September. Indeks tersebut turun 0,2 persen dan ditutup pada level 7.655,90 poin, sehingga mencatatkan penurunan bulanan tipis sebesar 0,4 persen.
Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,2 persen dan berakhir di level 26.861,06 poin, sekaligus mencatatkan kenaikan 1,9 persen selama September. Sementara itu, indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average turun 0,8 persen dan berakhir di level 50.908,79 poin, mencatatkan penurunan 4,3 persen sepanjang bulan tersebut.
"Data PCE hari ini yang lebih rendah dari perkiraan memberikan kelegaan yang disambut baik, meskipun kemungkinan besar hanya sementara, bagi para investor yang cemas dan pasar yang bingung akibat tingginya harga minyak serta lonjakan suku bunga yang belum pernah terjadi dalam lebih dari 20 tahun terakhir," ujar CEO Longbow Asset Management, Jake Dollarhide, kepada Investing.com.
Data Ekonomi AS Positif
Agenda ekonomi yang padat pada Rabu menjadi sorotan utama, dengan data terbaru mengenai indikator inflasi pilihan The Fed sebagai pusat perhatian.
Menurut Biro Analisis Ekonomi AS (BEA), indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) utama naik 0,3 persen secara bulanan (M/M) dan 3,4 persen secara tahunan (Y/Y) pada Agustus, dibandingkan dengan 0,1 persen dan 3,4 persen pada Juli, serta lebih rendah dari perkiraan sebesar 0,4 persen dan 3,7 persen.
Untuk indeks harga PCE inti, kenaikannya tercatat sebesar 0,2 persen secara bulanan (M/M) dan 3 persen secara tahunan (Y/Y) pada Agustus, dibandingkan dengan 0,1 persen dan 3 persen pada Juli, serta berada di bawah angka konsensus sebesar 0,3 persen dan 3,3 persen.
Di sisi lain, BEA merevisi naik estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS untuk kuartal kedua menjadi 2,2 persen dari sebelumnya 1,5 persen. Para ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,5 persen.
Selain itu, laporan bulanan ADP mengenai lapangan kerja sektor swasta yang dirilis sebelumnya pada hari yang sama menunjukkan penambahan 90.000 lapangan kerja pada September; ini merupakan kali pertama laju perekrutan meningkat sejak Mei. Pada Agustus, perusahaan swasta hanya menambah 36.000 lapangan kerja.
Rentetan data ini muncul di tengah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa dekade, yang secara tajam meningkatkan biaya pinjaman. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor: kekhawatiran inflasi terkait harga minyak, kekhawatiran mengenai besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sinyal kebijakan ketat (hawkish) dari The Fed, serta membengkaknya utang fiskal AS.
Indikator-indikator yang dirilis pada Rabu semakin menurunkan peluang pengetatan kebijakan di Oktober. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase bulan depan kini berada di kisaran 37 persen, turun dari hampir 51 persen pada hari sebelumnya.
"Kombinasi antara pertumbuhan yang lebih kuat, inflasi yang mereda, dan ketahanan pasar tenaga kerja merupakan hasil makroekonomi yang paling menguntungkan bagi pasar saham, serta menjadi sinyal soft landing (perlambatan ekonomi yang terkendali tanpa memicu resesi). Hal ini mengurangi risiko kenaikan suku bunga dalam waktu dekat sekaligus memvalidasi asumsi pertumbuhan laba perusahaan," ujar Chris Osmond, Chief Investment Officer di Fifth Third Wealth Advisors.
“Sektor teknologi, perusahaan yang terkait dengan AI, dan saham berkapitalisasi kecil (small-cap) adalah pihak yang paling diuntungkan: ekspektasi suku bunga yang lebih rendah menurunkan tingkat diskonto, sementara belanja konsumen yang kuat mendukung pertumbuhan pendapatan (top-line growth). Pemulihan data ADP merupakan kabar positif bagi sektor barang konsumsi non-pokok (consumer discretionary) dan keuangan, yang mengindikasikan bahwa kondisi pendapatan dan lapangan kerja tetap mendukung aktivitas belanja," tambahnya.
Rilis data tersebut juga sempat meredam aksi jual di pasar obligasi AS, yang menyebabkan imbal hasil (yield) Treasury turun. Instrumen berjangka waktu lebih pendek yang lebih sensitif terhadap suku bunga—seperti yield obligasi tenor 2 tahun—mengalami penurunan terbesar seiring berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Namun, yield obligasi tenor lebih panjang kembali naik; yield acuan tenor 10 tahun bertahan di level tertinggi sejak April 2002, sementara yield tenor 30 tahun berada di level tertinggi sejak Juni 2002.
Wall Street Mampu Bertahan di September
Di luar agenda data ekonomi, hari Rabu juga menjadi hari perdagangan terakhir bulan September bagi Wall Street.
Bulan ini memang terbukti memiliki volatilitas tinggi sesuai reputasi historisnya, namun saham-saham AS sempat berada di jalur yang tepat untuk mematahkan tren di mana September biasanya menjadi bulan terburuk bagi pasar, setidaknya hingga sesi perdagangan terakhir pada Rabu. Pada akhirnya, indeks acuan S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 0,4 persen selama periode tersebut.
Meski demikian, pasar saham berhasil bertahan di tengah kondisi yang menantang, yang ditandai oleh aksi jual besar-besaran obligasi Treasury AS, lonjakan harga minyak, dan sikap hawkish The Fed. Posisi indeks S&P saat ini masih berada kurang dari 2 persen di bawah rekor penutupan tertingginya.
Ketahanan pasar saham ini sebagian besar didorong oleh prospek laba perusahaan yang solid serta kebangkitan kembali minat pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).
Saham-saham, yang menjadi barometer utama kinerja sektor terkait AI, naik 9,5 persen pada September setelah kinerja yang lesu di Agustus.
Hari Rabu juga menandai berakhirnya kuartal ketiga bagi Wall Street. Indeks S&P 500 mencatat kenaikan 2,1 persen sepanjang kuartal tersebut, yang berarti mencatatkan kinerja positif untuk kali ke-10 dalam 12 kuartal terakhir. (Febrina Ratna Iskana)