IDXChannel - Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Kamis (5/3/2026) di mana konflik di Timur Tengah sudah memasuki hari keenam. Agresi militer AS-Israel ke Iran mendorong harga minyak naik dan memicu kekhawatiran inflasi.
Investor juga mempertanyakan kapan Federal Reserve akan memangkas suku bunga.
Melansir Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 784,67 poin atau 1,61 persen menjadi 47.954,74. Indeks S&P 500 melemah 0,56 persen menjadi 6.830,71, sementara Nasdaq Composite ditutup turun 0,26 persen menjadi 22.748,99.
Perluasan konflik ke lebih banyak negara memicu kekhawatiran akan gangguan di Selat Hormuz, jalur energi yang sangat penting, di mana ancaman rudal dan drone telah secara drastis mengurangi lalu lintas kapal tanker.
Hal ini mendorong harga minyak mentah AS naik 8,5 persen menjadi USD81 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024. Patokan global Brent crude naik 4,9 persen menjadi USD85,41. Para trader khawatir gangguan yang berkepanjangan dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Lihat saja harga minyak hari ini, itu sudah menjelaskan segalanya tentang mengapa pasar saham turun,” kata ahli strategi pasar di Baird Private Wealth Management, Michael Antonelli.
Indeks S&P 500 yang melacak kinerja perusahaan besar AS di sektor industri, material, dan kesehatan masing-masing turun lebih dari 2 persen. Sub-sektor maskapai penumpang anjlok 5,4 persen, dengan saham Southwest Airlines turun 6,9 persen.
Di sisi lain, indeks S&P 500 yang melacak kinerja perusahaan energi utama AS menguat 0,6 persen didorong prospek pendapatan yang lebih tinggi dari kenaikan harga energi. Saham Chevron naik 3,9 persen.