IDXChannel - Wall Street mengalami sesi perdagangan yang fluktuatif pada Kamis (24/9/2025). Pasar sempat merosot akibat tiga tekanan sekaligus, yaitu lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), dan sinyal kebijakan hawkish dari Federal Reserve (The Fed).
Saham-saham kemudian memangkas kerugian menyusul laporan media bahwa AS dan Iran sedang membahas kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik mereka, dan akhirnya ditutup dengan perubahan yang minim.
Indeks acuan S&P 500 dan indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi praktis tidak berubah; S&P 500 ditutup pada level 7.704,13 poin atau turun 0,02 persen dan NASDAQ Composite naik 0,01 persen ke 26.939,37 poin.
Sebelumnya pada sesi tersebut, kedua indeks sempat turun masing-masing sebesar 0,6 persen dan 0,9 persen. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,31 persen dan berakhir di level 51.349,98 poin.
Pelaku pasar memantau dengan cermat kunjungan kenegaraan pertama Presiden China Xi Jinping ke AS sejak 2015. Presiden AS Donald Trump menyambut Xi di Gedung Putih dan keduanya menyampaikan pidato pembuka, di mana Trump menyatakan bahwa para pemimpin tersebut akan membahas isu keamanan, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, pasar obligasi juga mengalami perdagangan yang tidak stabil, dengan aksi jual besar-besaran yang sebagian besar masih berlanjut. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 9,3 basis poin menjadi 5,209 persen, bertahan di level yang belum pernah terlihat sejak Juli 2007.
"Pasar sedang bergulat dengan tiga hambatan makro sekaligus: harga minyak yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, dan sikap The Fed yang lebih *hawkish*. Salah satu dari faktor tersebut mungkin masih bisa diatasi. Namun, ketiga faktor yang terjadi secara bersamaan dapat menekan valuasi saham," ujar kepala strategi dan mitra di BakerAvenue Wealth Management, King Lip, kepada Investing.com dikutip Jumat (25/9/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan masalah terbesar bagi pasar saham saat ini bukanlah semata-mata karena imbal hasil yang tinggi, melainkan karena imbal hasil tersebut masih terus bergerak naik. Pasar bisa beradaptasi dengan imbal hasil 5 persen untuk obligasi tenor 10 tahun. Namun, jauh lebih sulit untuk menentukan harga saham ketika investor tidak tahu apakah angka 5 persen itu merupakan tujuan akhir atau sekadar titik singgah dalam perjalanan kenaikan tersebut.
Dia juga menilai harga minyak mungkin sebenarnya merupakan variabel terpenting. Penurunan harga minyak mentah yang berkelanjutan dapat mengatasi beberapa masalah sekaligus: meredakan kekhawatiran inflasi, mengurangi tekanan pada imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), dan memberi ruang lebih bagi The Fed untuk bersikap sabar.
“Itulah sebabnya setiap berita utama yang mengisyaratkan kemajuan antara AS dan Iran dapat menggerakkan pasar saham dengan begitu cepat," tambah Lip.
Harga Minyak Tetap Tinggi
Harga minyak mentah acuan naik untuk sesi kedua berturut-turut pada Kamis, semakin memulihkan posisi setelah penurunan selama lima hari yang berakhir pada Selasa. Kenaikan ini terjadi di tengah memudarnya harapan akan terobosan diplomatik antara AS dan Iran dalam Sidang Umum PBB di New York pekan ini.
Trump dan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan pidato yang keras di PBB; Presiden AS mengancam akan "memusnahkan" Iran dan "mengirim mereka ke neraka" atau membuat kesepakatan, sementara pejabat Teheran menegaskan bahwa negaranya "tidak akan pernah menundukkan kepala" atau "berlutut," namun juga menyatakan keterbukaan terhadap "dialog, diplomasi, dan negosiasi."
Meskipun pembicaraan tidak langsung telah berlangsung antara perwakilan AS dan delegasi Iran di sela-sela sidang PBB, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu mengatakan bahwa ia tidak akan menyebut diskusi tersebut sebagai "terobosan besar," melainkan lebih sebagai "kelanjutan dari percakapan yang telah terjadi di masa lalu."
Kedua negara masih berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz. Reuters pada Kamis melaporkan bahwa negosiator AS dan Iran di New York telah membahas jalan keluar bertahap dari konflik, yang melibatkan pembukaan kembali selat tersebut oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi oleh Washington; informasi ini diperoleh dari sumber-sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan.
Harga minyak sempat memangkas kenaikannya akibat laporan Reuters tersebut, namun penurunan itu tampaknya hanya berlangsung singkat karena harga kembali merangkak naik. Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, terakhir tercatat naik 4,3 persen menjadi USD107,54 per barel. (Febrina Ratna Iskana)