sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Ditutup Stagnan di Tengah Sikap Hawkish The Fed dan Yield Obligasi AS

Market news editor Febrina Ratna Iskana
25/09/2026 06:40 WIB
Wall Street sempat merosot akibat tiga tekanan sekaligus, yaitu lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan sikap hawkish The Fed.
Wall Street Ditutup Stagnan di Tengah Sikap Hawkish The Fed dan Yield Obligasi AS. (Foto: AP Photo)
Wall Street Ditutup Stagnan di Tengah Sikap Hawkish The Fed dan Yield Obligasi AS. (Foto: AP Photo)

Harga Minyak Tetap Tinggi

Harga minyak mentah acuan naik untuk sesi kedua berturut-turut pada Kamis, semakin memulihkan posisi setelah penurunan selama lima hari yang berakhir pada Selasa. Kenaikan ini terjadi di tengah memudarnya harapan akan terobosan diplomatik antara AS dan Iran dalam Sidang Umum PBB di New York pekan ini.

Trump dan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan pidato yang keras di PBB; Presiden AS mengancam akan "memusnahkan" Iran dan "mengirim mereka ke neraka" atau membuat kesepakatan, sementara pejabat Teheran menegaskan bahwa negaranya "tidak akan pernah menundukkan kepala" atau "berlutut," namun juga menyatakan keterbukaan terhadap "dialog, diplomasi, dan negosiasi."

Meskipun pembicaraan tidak langsung telah berlangsung antara perwakilan AS dan delegasi Iran di sela-sela sidang PBB, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu mengatakan bahwa ia tidak akan menyebut diskusi tersebut sebagai "terobosan besar," melainkan lebih sebagai "kelanjutan dari percakapan yang telah terjadi di masa lalu."

Kedua negara masih berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz. Reuters pada Kamis melaporkan bahwa negosiator AS dan Iran di New York telah membahas jalan keluar bertahap dari konflik, yang melibatkan pembukaan kembali selat tersebut oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi oleh Washington; informasi ini diperoleh dari sumber-sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan.

Harga minyak sempat memangkas kenaikannya akibat laporan Reuters tersebut, namun penurunan itu tampaknya hanya berlangsung singkat karena harga kembali merangkak naik. Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, terakhir tercatat naik 4,3 persen menjadi USD107,54 per barel. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement