IDXChannel - Indeks utama Wall Street tak lagi mencetak rekor tertinggi pada pembukaan perdagangan Kamis (28/5/2026), waktu setempat. Ini terjadi karena meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sehingga, meredam harapan akan kesepakatan damai yang akan segera terjadi. Selain itu, investor turut mencerna data inflasi utama.
Dilansir dari Reuters, pada pukul 10:01 pagi waktu setempat, Dow Jones Industrial Average dibuka turun 110,97 poin atau 0,22 persen menjadi 50.533,31, S&P 500 naik 1,71 poin atau 0,02 persen ke level 7.521,68, dan Nasdaq Composite melemah 6,80 poin atau 0,02 persen menjadi 26.667,93.
Harga minyak melonjak hampir 3 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS sedikit meningkat dengan penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut menambah kekhawatiran inflasi.
Data menunjukkan inflasi AS meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun pada April, didorong oleh harga energi yang lebih tinggi di tengah perang Iran.
"Angkanya tidak seburuk yang dikhawatirkan. Itu sedikit meredam beberapa ekspektasi kenaikan suku bunga," kata Ahli Strategi Investasi Global Senior di Edward Jones, Angelo Kourkafas.
"Sebagian besar fokus masih akan tertuju pada negosiasi Iran dan tren AI, dan kedua hal inilah yang akan mendorong narasi untuk pasar saham," kata dia.
Kepercayaan yang diperbarui pada AI dan momentum pertumbuhan laba telah menopang reli baru-baru ini, dengan ketiga indeks utama ditutup pada rekor tertinggi pada hari Rabu.
S&P 500 berada di jalur untuk kenaikan mingguan kesembilan berturut-turut, rentetan kemenangan terpanjangnya sejak Desember 2023.
Jumlah saham yang turun lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,48 banding 1 di NYSE dan dengan rasio 1,28 banding 1 di Nasdaq.
Indeks S&P 500 mencatatkan 7 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 7 rekor terendah baru, sementara Indeks Komposit Nasdaq mencatatkan 49 rekor tertinggi baru dan 43 rekor terendah baru.
(Dhera Arizona)