“Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental. Durasi detoks yang optimal bervariasi antarpenelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu,” jelas dia.
Ketika seseorang berani menekan tombol logout atau mematikan notifikasi selama kurun waktu tersebut, ada banyak beban tak kasatmata yang perlahan terangkat. Detoks media sosial bekerja dengan cara memutus rantai pemicu stres harian yang sering kali tidak kita sadari.
“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi kebiasaan melihat notifikasi terus-menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan fomo (fear of missing out),” tambah dr. Adam.
Namun, mengosongkan waktu dari media sosial tentu akan meninggalkan ruang hening dalam rutinitas sehari-hari. Agar proses detoks memberikan dampak yang benar-benar menyegarkan, waktu luang tersebut idealnya diisi dengan kegiatan nyata yang menutrisi fisik dan jiwa.
“Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat,” pungkas dia.
(Nadya Kurnia)