Pada saat itu, dunia Barat tengah menikmati kepercayaan diri tinggi dalam bidang politik dan ekonomi setelah memenangkan Perang Dingin.
Michael Barr, profesor hubungan internasional di Universitas Flinders, dalam salah satu makalahnya yang terbit pada tahun 2000, menyebut bahwa negara Barat sangat antusias untuk mengekspor demokrasi dan hak asasi manusia ke seluruh dunia.
Namun, rencana tersebut mendapat perlawanan dari negara-negara Asia-Pasifik yang memandangnya sebagai upaya untuk mengendalikan Asia secara politik dan ekonomi.
Asia-Pasifik menganggap penekanan negara-negara Barat terhadap hak asasi manusia sebagai bentuk kemunafikan. Dari sinilah muncul argumen tentang nilai-nilai Asia yang kini dikenal sebagai 'Asian Value'.
Singkatnya, 'Asian Value' adalah nilai-nilai yang diusulkan sebagai inti dari budaya dan identitas Asia.