AALI
9650
ABBA
226
ABDA
0
ABMM
2370
ACES
790
ACST
168
ACST-R
0
ADES
7275
ADHI
820
ADMF
8075
ADMG
176
ADRO
2950
AGAR
324
AGII
2090
AGRO
725
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1055
AKSI
294
ALDO
835
ALKA
298
ALMI
292
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/06/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.61
-0.34%
-1.85
IHSG
6996.46
-0.28%
-19.60
LQ45
1007.64
-0.31%
-3.10
HSI
22418.97
0.85%
+189.45
N225
27049.47
0.66%
+178.20
NYSE
0.00
-100%
-14811.55
Kurs
HKD/IDR 1,888
USD/IDR 14,835
Emas
871,303 / gram

Memasuki Babak Project Competition Phase 2-3, Kompetisi WMM 2021 Kategori Business Existing Ketat

MILENOMIC
Fahmi Abidin
Minggu, 31 Oktober 2021 18:43 WIB
30 peserta kompetisi Wirausaha Muda Mandiri kategori Business Existing segera melaju ke babak selanjutnya, yaitu Project Competition Phase 2.
Memasuki Babak Project Competition Phase 2-3,  Kompetisi WMM 2021 Kategori Business Existing Ketat. (Foto: Wirausaha Muda Mandiri/Adv)
Memasuki Babak Project Competition Phase 2-3, Kompetisi WMM 2021 Kategori Business Existing Ketat. (Foto: Wirausaha Muda Mandiri/Adv)

IDXChannel - Setelah melewati tahap Project Competition Phase 1: Strategic Plan Presentation, 30 peserta kompetisi Wirausaha Muda Mandiri kategori Business Existing segera melaju ke babak selanjutnya, yaitu Project Competition Phase 2: Live Virtual Company Tour dan Project Competition Phase 3: Advertising Script.

Pada babak Project Competition Phase 2 para peserta akan menunjukan ‘etalase’ bisnis mereka dari lokasi masing-masing kepada Mentor dan disiarkan secara langsung melalui aplikasi zoom. Peserta memperlihatkan lokasi produksi, proses produksi, display, hingga demo produk/jasa yang ditawarkan. Sedangkan di babak Project Competition Phase 3, peserta submit script dan konsep advertising terkait bisnis mereka dan mempresentasikan konsep advertising di depan mentor yang juga dilakukan secara virtual.

Peserta kategori bidang usaha Teknologi yang berhak melaju ke babak berikutnya adalah Alamsyah (Fox Logger), Dian Prayogi Susanto (Habibi Digital Nusantara), Agustinus Dwiutomo Pristya Putra (Goodeva), Ahmad Alimuddin (Teman Pasar), Abdul Latif Wahid Nasution (Kepul), dan Ratih Rachmatika (SIAB Indonesia).

Fox Logger platform digital untuk menganalisis pergerakan kendaraan, aplikasi ini membantu lembaga pembiayaan kendaaraan bermotor. “Kami menganalisis data pergerakan kendaraan bermotor sebagai indikator produktifitas,” kata Alamsyah yang membangun bisnis ini sejak 2015.

Sedangkan perusahaan Habibi Digital Nusantara milik Dian Prayogi Susanto, merupakan perusahaan rintisan di bidang agriculture (start up agriculture), Platform digital yang membantu petani untuk meningkatkan produktifitas mereka. “Aplikasi ini antara lain menghimpun data kapan petani membutuhkan pupuk, dan kapan mendistribusikannya,” kata Dian.

Saat ini usaha Habibi Digital Nusantara yang sudah berjalan lebih dari lima tahun ini adalah bergerak di bidang penjulan produk pertanian dan pupuk. Seluruh proses penanaman, perawatan hingga panen dikontrol secara digital. Menjawab pertanyaan dari mentor Dedi Cahyadi (Founder Nano Bubble) tentang sistem keamanan platform kreasinya, Dian menjawab bisa saja ditiru, tetapi keunggulan pada pelayanan yang tidak bisa ditiru. Ke depan yang akan dikembangkan Dian adalah pada financing, trading, dan factory.

Masih berkaitan dengan upaya memudahkan distribusi hasil pertanian, Teman Pasar perusahaan yang dirintis Ahmad Alimudin ini merupakan platform digital yang menghubungkan pedagang di pasar dengan konsumen di rumah. “Kami ingin menjadikan penjual di pasar sebagai supply chain, dan mendigitalisasi produk mereka guna meningkatkan penjualan,” katanya.

Saat ini Teman Pasar masih beroperasi di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang saja. Mimpi besar mereka adalah memberi sentuhan teknologi kepada pedagang pasar. Teman Pasar juga menyediakan fitur pasar terdekat, produk, serta beragam cara pembayaran ‘payment system’. Revenue Teman Pasar perbulan baru menyentuh angka Rp30-70 juta.

Selanjutnya adalah Agustinus Dwiutomo Pristya Putra, founder Goodeva. Produknya adalah Goodeva Safety Smart, sistem digital untuk memonitoring pegawai di perusahaan-perusahaan dengan risiko tinggi, seperti pertambangan. “Dengan sistem yang kami sediakan, perusahaan dapat mendeteksi layak tidaknya pekerjaan dan pekerjanya di lapangan, memonitoring kesehatan pekerja. Ke depan platform ini akan kami kembangkan untuk retail dan untuk family di rumah,” ujarnya.

Goodeva ingin mewujudkan visinya dalam menciptakan inovasi platfrom digital safety dan kesehatan untuk masa depan kesehatan di Indonesia yang lebih modern dengan memberdayakan karya anak bangsa. “Saat ini sistem kami sudah digunakan di tujuh kota dan tujuh lokasi tambang,” ujar lulusan Magister Managemen Universitas Indonesia ini.

Setelah paltform digital untuk pertanian, penjual pasar, dan perusahaan tambang, peserta yang berhak lolos ke babak berikutnya adalah Abdul Latif Wahid Nasution  dengan usahanya Kepul yang merupakan platform digital. Kepul didesain untuk memudahkan masyarakat menjual sampah mereka. “Jasa yang ditawarkan Kepul adalah menjual sampah dengan mudah, mendapatkan uang dari sampah, sekaligus menyelamatkan lingkungan,” kata anak Medan, Sumatera Utara ini.

Omzet yang berhasil dikumpulkan saat ini mencapai Rp300 juta perbulan hasil dari menjual sampah dari masyarakat ke perusahaan-perusahaan yang menampung sampah, termasuk waste oil atau jelantah. “Program Kepul banyak sekali yang sudah berjalan seperti belanja sembako, makan di kafe hingga pergi umrah pakai sampah,” ucapnya.

Sedangkan SIAB Indonesia, perusahaan yang didirikan Ratih Rachmatika dari Jawa Timur merupakan perusahaan yang mengembangkan platform digital untuk membantu perusahaan yang bergerak di bidang distribusi air bersih sepeti PAM dan PDAM. SIAB dapat mengontrol dan mendeteksi kerusakan pipa air serta kebersihan air.

Untuk nama-nama dari empat kategori lainnya, yaitu Industri, Perdagangan, Jasa, Boga, Sosial, dan Kreatif masing-masing ada lima hingga delapan peserta yang berhak melaju ke babak berikutnya. Tahun ini peserta WMM  sangat kompetitif sehingga ada beberapa kategori yang terpilih lebih dari 5 pemenang.

Beberapa di antaranya adalah Syamsuria Syamsuddin (Duta Samudera Indonesia), Novitha Herawati (CV Nusantara Jaya Food), Adnan Yatim  (Helper Indonesia), Martalinda Basuki (Cokelat Klasik), dan Nurman Farieka Ramdhany ( Hirka).

Setiap kategori bidang usaha memiliki mentornya masing-masing, yaitu untuk kategori IPJ dimentori oleh Florentia Jeanne, Owner Noonaku Signature; kategori Sosial digawangi mentor Goris Mustaqim, Owner PT Resultan Nusantara; kategori Boga dimentori Hendy Setiono, Owner Baba Rafi Enterprises; terakhir kategori Kreatif menghadirkan mentor yaitu YouTuber atau content creator Fathia Izzati dan Founder Linean & Juara 1 WMM 2018 Malinda Amalia.

Persaingan Project Competition Phase 2-3 ini semakin ketat, para peserta akan bertarung di babak tersebut pada 1-3 November untuk sampai ke Babak Capital League. Klik di sini untuk menyaksikan keseruan selama proses penjurian 30 peserta WMM 2021 kategori Business Existing. (Adv)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD