Saat Iblis Nian datang, tiba-tiba terdengar suara petasan yang cukup kencang dan nyala api yang sangat menyala. Mendengar dan melihat hal itu, Nian tidak berani maju, tetapi pria tua tersebut tetap maju sembari mengenakan pakaian warna merah hingga membuat Nian mengamuk dan lari terbirit-birit.
Pada hari berikutnya saat para penduduk desa membuka rumah dan turun dari gunung, mereka mendapati desa dan ternak mereka dalam keadaan aman. Akhirnya warga desa mulai mempercayai pria tua tersebut.
Sejak saat itulah banyak warga yang menggunakan warna merah berupa bait-bait dan lampion sebagai bentuk penjagaan dari Iblis Nian. Selain itu, saega juga turut menyalakan petasan, membiarkan lampu menyala serta begadang hingga pagi hari.
Seiring berjalannya waktu, warna merah menjadi hal identik setiap perayaan Imlek di akhir tahun dalam penanggalan lunar.
Sementara itu melansir dari royalmint.com (15/2/2026), warna emas yang identik setiap perayaan Imlek dipercaya oleh masyarakat Tionghoa sebagai warna yang melambangkan supremasi kaisar.