AALI
9925
ABBA
290
ABDA
7000
ABMM
1380
ACES
1275
ACST
194
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
840
ADMF
7625
ADMG
188
ADRO
2310
AGAR
364
AGII
1390
AGRO
1325
AGRO-R
0
AGRS
163
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
175
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
800
AKSI
755
ALDO
1375
ALKA
314
ALMI
288
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.72
1.77%
+8.94
IHSG
6726.37
1.5%
+99.50
LQ45
959.76
1.74%
+16.42
HSI
24935.43
-0.07%
-16.92
N225
27522.26
-0.9%
-250.67
NYSE
16663.77
-0.92%
-155.21
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,345
Emas
847,450 / gram

Minat dengan Dunia Serangga? Profesi Taksonomist Ini Bisa Jadi Pilihan Lho!

MILENOMIC
Neneng Zubaedah
Rabu, 01 Desember 2021 14:59 WIB
Sebagai negara mega biodiversitas, pekerjaan taksonomist masih sangat dibutuhkan di Indonesia.
Sebagai negara mega biodiversitas, pekerjaan taksonomist masih sangat dibutuhkan di Indonesia.
Sebagai negara mega biodiversitas, pekerjaan taksonomist masih sangat dibutuhkan di Indonesia.

IDXChannel - Sebagai negara mega biodiversitas, pekerjaan taksonomist masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Ini karena banyak keanekaragaman serangga yang potensinya belum terungkap. Kurang lebih, baru satu juta spesies serangga yang teridentifikasi. Sedangkan sekitar 4-5 juta sisanya masih belum terungkap di dunia.

“Sehingga hal tersebut membuat peluang sekaligus tantangan bagi taksonomist muda, khususnya untuk mengungkap satu per satu spesies serangga yang ada,” ujar Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman Dr Purnama Hidayat dalam webinar Bincang Seru Taksonomi Serangga melalui siaran pers, Rabu (1/12/2021).

Dr Pur menambahkan, bidang Taksonomi Serangga sangat penting karena menjadi dasar dalam memberikan informasi mulai dari peranan dari serangga hingga keperluan terkait tindakan pengendalian.

“Setiap orang berhak belajar dan menyukai serangga. Serangga merupakan hewan yang ada di sekitar kita. Sadar ataupun tidak, serangga seperti semut, kecoa, nyamuk, kumbang, kupu-kupu dan yang lainnya menjadi hewan yang selalu hidup berdampingan setiap harinya dengan kita,” tuturnya.

Menurutnya, sebelum melakukan proses pengendalian, sangat diperlukan informasi jenis serangga yang akan dikendalikan sehingga akan tepat sasaran. Ketika salah dalam mengenali serangga sasaran, maka akan berdampak terhadap ekosistem.

“Dan tugas mengenali serangga tersebut merupakan tugas yang penting bagi seorang taksonom,” lanjutnya.

Dosen IPB University Dr Nina Maryana menjelaskan, keberadaan Laboratorium Biosistematika Serangga yang dimiliki Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian.

Laboratorium ini mempunyai fasilitas yang sangat mumpuni khususnya mikroskop dengan kemampuan yang tinggi sehingga mampu menunjang penelitian mahasiswa baik program sarjana, master, maupun doktoral.

“Produk dan jasa yang dihasilkan dari Laboratorium Biosistematik Serangga tidak hanya berupa serangga-serangga hasil penelitian. Tetapi tentunya tulisan-tulisan tentang serangga yang sudah dimuat di jurnal nasional maupun internasional, buku identifikasi (kutu kebul dan kutu daun), serta jasa atau pelayanan dalam mengidentifikasi serangga baik yang berperan sebagai hama maupun sebagai serangga bermanfaat seperti predator, penyerbuk dan decomposer,” terangnya.

Menurutnya, selain dosen-dosennya yang mempunyai keahlian yang mumpuni di bidang Taksonomi Serangga, suasana kerja dan peralatan yang mendukung memberikan dampak psikologis kepada para mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.

“Karena sejatinya penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tidak hanya memberikan pengaruh penting secara langsung untuk mahasiswa itu sendiri, tetapi juga memberikan dampak yang baik bagi dosen, departemen, bahkan secara khusus kepada IPB University,” imbuhnya.

Ia menambahkan, banyak alumni dari Laboratorium Biosistematika Serangga yang bekerja sebagai dosen di Universitas Padjajaran, Universitas Bangka Belitung, Universitas Singaperbangsa Karawang, Universitas Papua, Petugas Badan Karantina Pertanian serta masih banyak lagi.

Menurutnya, pekerjaan bidang taksonomi serangga masih sangat dibutuhkan sampai sekarang. Bahkan dengan perkembangan teknologi, identifikasi serangga yang dulunya dengan menggunakan teknik konvensional, sekarang sudah mulai berkembang. 

“Yakni dengan membandingkan identifikasi spesies dengan teknik molekuler yang memungkinkan untuk melihat asal muasal spesies hingga tingkat molekul, serta dapat melihat peta persebaran dengan cara mencarinya database di GenBank,” jelasnya.

Pekerjaan sebagai ahli taksonomi serangga, lanjutnya, masih sangat terbuka sehingga diharapkan para generasi muda atau milenial juga dapat ikut serta dalam membantu mengungkap spesies-spesies baru di Indonesia. Pastinya dengan bergabung di Program Studi Entomologi IPB University khususnya di Laboratorium Biosistematika Serangga. (NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD