Iftitah menjelaskan, kehadiran para sarjana ini sangat krusial untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja terlatih di kawasan transmigrasi, sekaligus memangkas ketergantungan terhadap tenaga kerja asing. Sebagai contoh, di kawasan transmigrasi Melolo NTT, dari 4.000 lapangan kerja industri gula yang tersedia, kini 3.800 di antaranya sudah berhasil diserap dari penduduk lokal berkat pendampingan yang tepat.
Latar belakang keilmuan para pendaftar tahun ini pun sangat spesifik dan relevan dengan tantangan industri modern. Mulai dari keahlian Aktuaria (pengelolaan risiko keuangan), Kartografi dan Penginderaan Jauh, Teknik Energi Terbarukan, Oseanografi, hingga mitigasi bencana.
Nantinya, para personel yang lolos seleksi ketat dari pihak universitas akan diterjunkan ke 53 lokus wilayah transmigrasi di seluruh Indonesia, dengan fokus utama di wilayah Indonesia Timur. Langkah ini merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun oleh Bappenas guna mengentaskan kemiskinan dan merealisasikan pemerataan ekonomi yang nyata.
"Indonesia tidak kekurangan potensi, yang kita butuhkan adalah sumber daya manusia unggul yang hadir di kawasan-kawasan transmigrasi untuk mengolah daerah setempat sesuai ilmu pengetahuan dan teknologi," pungkas Iftitah.
(Rahmat Fiansyah/Sheqilla Sukma)