"Memang dari segi cuacanya yang menjadi tantangan kami adalah bukan 2024, 2025, dan 2026 tetapi 2027. Karena di 2027 itulah siklus empat tahunan terjadi musim kering," ujarnya.
Dia mencontohkan, kebakaran hutan dan lahan besar pernah terjadi pada 2015. Setelah itu, kejadian karhutla relatif menurun pada 2016 hingga 2018 lantaran kondisi cuaca lebih basah. Namun, karhutla kembali meningkat pada 2019 akibat fenomena El Nino.
"Kalau 2024, 2025, 2026 memang seharusnya turun, karena cuacanya juga tidak terlalu panas dan masih banyak hujan," kata dia.
Oleh karenanya, BNPB telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi karhutla besar di 2027. Di antaranya mulai dari operasi modifikasi cuaca hingga water bombing.
"Di pencegahannya kami sampaikan bahwa kami melengkapi satgas-satgas darat, kemudian ada operasi modifikasi cuaca, ada operasi heli, water bombing," ujarnya.
(Dhera Arizona)