Gencatan Senjata Kembali Goyah
Baku tembak telah menimbulkan pertanyaan tentang apakah nota kesepahaman (MoU) tanggal 17 Juni yang ditandatangani antara AS dan Iran akan tetap berlaku.
Masing-masing pihak menuduh pihak lain melanggar kesepakatan tersebut, yang mencakup gencatan senjata. Dokumen tersebut juga menyerukan penghentian "permanen" operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, yang secara efektif menghentikan sementara perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Memorandum tersebut bukanlah kesepakatan final, melainkan dirancang sebagai pendahulu untuk negosiasi lebih lanjut, termasuk mengenai lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur air vital untuk perdagangan global.
Sejak awal perang, Iran telah menutup lalu lintas melalui selat tersebut, memaksa harga bahan bakar, pupuk, dan barang-barang lainnya melonjak. Namun, serangan pada hari Kamis terhadap kapal komersial terdaftar Singapura, Ever Lovely, telah kembali memicu ketegangan antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya pada hari Jumat memperingatkan bahwa ia menganggap insiden Ever Lovely sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap memorandum tersebut. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk memicu periode 60 hari di mana Iran diwajibkan untuk melakukan "upaya terbaik" untuk memungkinkan kapal komersial melewati selat tanpa biaya.