sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BMKG: 1.637 Wilayah di Indonesia Alami Tanpa Hujan Lebih 60 Hari Berturut-turut

News editor Binti Mufarida
15/09/2026 13:52 WIB
BMKG menyebut kondisi atmosfer yang relatif kering turut diperkuat oleh fenomena El Nino yang masih berada pada kategori sangat kuat.
BMKG: 1.637 Wilayah di Indonesia Alami Tanpa Hujan Lebih 60 Hari Berturut-turut
BMKG: 1.637 Wilayah di Indonesia Alami Tanpa Hujan Lebih 60 Hari Berturut-turut

BMKG mengingatkan kondisi atmosfer yang kering dapat membuat kebakaran bertahan lebih lama, terutama di lahan gambut. Api bahkan dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.

Selain karhutla, kondisi tersebut juga meningkatkan potensi munculnya kabut asap. Berdasarkan citra Satelit Himawari-9 pada 14 September 2026 pukul 08.00 WIB, BMKG mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

“Kondisi atmosfer yang kering dapat mendukung kebakaran bertahan lebih lama, terutama pada lahan gambut, karena api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan,” tulis BMKG.

Di sisi lain, kondisi kering juga menyebabkan minimnya tutupan awan sehingga radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal. Suhu udara maksimum di atas 36°C tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Aceh, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

BMKG memprakirakan kondisi kering masih berlanjut. Pada Dasarian II September 2026, curah hujan rendah kurang dari 50 mm per dasarian diperkirakan terjadi di Sumatra bagian tengah hingga selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.

Meski demikian, hujan masih berpeluang terjadi secara lokal pada 15-21 September 2026, terutama di sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, Papua Pegunungan, serta Papua.

BMKG menjelaskan potensi hujan ini dipengaruhi oleh beberapa dinamika atmosfer, seperti aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin, serta terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sekitar Sumatra, Laut Natuna, Selat Makassar, hingga perairan Maluku dan Papua. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penumpukan massa udara dan meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

“Selain itu, kondisi atmosfer yang cukup labil di sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Papua juga mendukung terbentuknya awan hujan secara lokal. Di sisi lain, peningkatan kecepatan angin di sejumlah wilayah juga perlu diwaspadai karena dapat memicu angin kencang, baik yang terjadi secara lokal bersama pertumbuhan awan konvektif maupun akibat penguatan aliran angin dalam skala yang lebih luas,” kata BMKG. 

(Nur Ichsan Yuniarto)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement