IDXChannel—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan memanfaatkan dry ice (es kering) untuk menanggulangi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi ini difokuskan utamanya untuk mengurai kepekatan kabut asap.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan bahwa seluruh prosedur operasi dilakukan dengan perhitungan yang sangat cermat agar tidak menimbulkan efek negatif bagi masyarakat di daratan.
Salah satu strateginya adalah menggunakan dry ice berukuran pelet kecil yang disemai di lapisan atmosfer tertentu.
"Tentu kita melakukan operasi ini dengan sebaik-baiknya. Karena operasi modifikasi cuaca dengan dry ice itu tujuannya kan untuk kebaikan, maka kita tidak ingin menimbulkan dampak yang tidak baik. Oleh karenanya, misalnya kita menyemai dry ice itu dalam ukuran yang kecil-kecil, ukuran pelet gitu, ya," kata Handoko, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Ia menjelaskan, pelet es kering tersebut disemai di atas lapisan inversi pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki. Penentuan ketinggian ini bertujuan agar dry ice mengalami proses sublimasi sempurna di atmosfer sebelum menyentuh tanah.
"Sehingga kita di bawah tidak merasakan dampak penyemaian itu, tapi penyemaian itu dampaknya langsung di atas, di atmosfer di sekitar 5.000 sampai 7.000 kaki. Nah, ini tentu upaya kita untuk memastikan bahwa dampak negatifnya itu tidak terjadi," ujarnya.
Melalui metode tersebut, Handoko memastikan operasi ini justru memberikan dampak positif yang signifikan. Hasil utamanya adalah berkurangnya kepekatan asap secara cepat, yang langsung berdampak pada peningkatan jarak pandang (visibilitas).
Peningkatan visibilitas ini dinilai sangat krusial guna menunjang faktor keselamatan di berbagai sektor transportasi, mulai dari penerbangan hingga pelayaran.
Tidak hanya memperbaiki jarak pandang, operasi modifikasi cuaca ini juga berhasil menekan angka polutan berbahaya secara drastis, khususnya partikel halus PM2,5.
"PM2,5 menurun sangat drastis. Dengan adanya operasi ini, udara menjadi lebih bersih. Ya, kesehatan masyarakat juga menjadi lebih baik," tuturnya.
Saat disinggung berapa lama waktu kerja yang dibutuhkan untuk proses operasi modifikasi dry ice ini, dia menyebut tentunya tidak ada waktu pasti. Sebab, semua tergantung pada kepekatan asap tersebut.
"Biasanya dalam kurun waktu 1 jam sesudahnya atau kadang-kadang malah setengah jam sesudahnya, itu hasilnya mulai terasa, ya. Jadi setelah selesai penyemaian dengan dry ice, biasanya 30 menit kemudian, 1 jam kemudian, mulai terjadi proses pengangkatan asap, partikel-partikel asap," pungkasnya.
(Nadya Kurnia)