Sementara itu, BMKG mencatat pada periode 11–14 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di beberapa wilayah, seperti Sumatera Barat (139 mm/hari), Papua (94 mm/hari), Riau (89 mm/hari), Sulawesi Utara (79 mm/hari), Kalimantan Barat (77 mm/hari), dan Sulawesi Barat (63 mm/hari).
"Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatera, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatera," tutur BMKG.
Selain itu, BMKG membeberkan bahwa adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan di sekitar Selat Makassar turut mendukung terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin, terutama di sebagian wilayah Sumatera dan sekitarnya. "Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan," tuturnya.
Dengan demikian, ungkap BMKG, meskipun sudah memasuki musim kemarau, potensi hujan masih tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, konvergensi, dan belokan angin.
Jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau diprediksi mengalami peningkatan pada Dasarian III Juni 2026, dengan sifat hujan musim kemarau yang cenderung dibawah normal pada sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.