Menurut Ida, ancaman karhutla dan kekeringan biasanya meningkat pada periode tersebut. Kondisi itu berpotensi semakin kuat dengan adanya El Nino yang telah diproyeksikan oleh BMKG.
“Saat bulan Juni, Juli, Agustus, pada bulan-bulan ini ancaman kebakaran hutan dan lahan, kemudian kekeringan itu akan biasanya menyertai di musim-musim kemarau ini. Apalagi kalau kita ingat bahwa kedeputian klimatologi juga sudah merilis adanya El Nino, El Nino pada skala moderat pada tahun ini potensinya,” katanya.
BMKG menilai karhutla merupakan salah satu ancaman serius yang perlu diantisipasi sejak dini. Selain merusak ekosistem dan lingkungan, kebakaran hutan dan lahan juga dapat menurunkan kualitas udara serta menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat.
“Karhutla atau potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengancam pada saat musim kemarau kali ini itu memiliki dampak yang sangat destruktif terhadap kelestarian lingkungan, kemudian memberikan ancaman terhadap kualitas udara serta memberikan gangguan yang signifikan pada kesehatan dan juga transportasi,” kata Ida.
Dia menambahkan, dampak karhutla dapat menjadi lebih kompleks ketika asap yang dihasilkan menyebar hingga melintasi batas wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan persoalan lintas daerah bahkan lintas negara.
"Apalagi kalau misalnya untuk karhutla ini ketika nanti asapnya akan melintasi batas wilayah, maka ini juga akan menjadi isu kritis tersendiri,” ujarnya.
"BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memanfaatkan informasi cuaca dan iklim yang telah disediakan sebagai dasar mitigasi risiko bencana," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)