Lebih dari 36.000 jiwa di Boyolali juga terdampak kekeringan sehingga warga terpaksa harus antre dropping air bersih karena sumur mengering. Kemudian dilaporkan pula sebanyak 1.196.815 warga di Jabar mengalami krisis air akibat terdampak kekeringan musim kemarau.
Puan menekankan pentingnya memperkuat ketahanan air masyarakat. “BMKG telah menyediakan informasi peringatan dini kekeringan meteorologis yang dapat menjadi salah satu dasar pemerintah dalam mengantisipasi wilayah rawan,” tuturnya.
Menurutnya, data tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan di tingkat daerah. “Ketika sebuah wilayah mulai menunjukkan penurunan ketersediaan air, Pemerintah harus segera menyiapkan distribusi air, memeriksa sumber air alternatif, dan memastikan fasilitas penyimpanan tersedia,” ungkap Puan.
Puan menilai, krisis air bersih yang menyebabkan warga mencari alternatif ketersediaan air sendiri seperti di Sikka harus menjadi perhatian tentang bagaimana penanganan kekeringan berbasis pada tingkat risiko dan kebutuhan masyarakat.
“Wilayah kepulauan dan daerah dengan sumber air terbatas membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan wilayah yang memiliki jaringan air baku lebih mudah diakses,” sebutnya.